Skip to main content

SERIBU SAJAK TAO TOBA (JILID I)


Buku setebal 368 halaman yang berisi 250 judul puisi ini lahir karena keprihatinan terhadap kondisi Danau Toba. Uniknya, tak semua penulis di buku ini berlatar belakang sastrawan sehingga tak mengherankan jika sebagian besar puisi ini terbebas dari rima, jenis ataupun metode penulisan puisi.
Kebebasan dari aturan berpuisi ini membuat sekuruh penulis bebas menyuarakan cinta mereka kepada Danau Toba lewat berbagai ekspresi emosi : marah, sedih, teguran, peringatan. Seperti pada bait kedua puisi berjudul Untuk Apa karya Amani Sehat Siahaan :
Untuk apa
Kamu datang kemari
Kalau hanya untuk mengotori danauku
Untuk menyebarkan limbah limbahmu
Dengan bahasa sederhana apa adanya, puisi itu menjadi pertanyaan kepada semua pihak. Tak hanya kepada perusahaan yang membangun bisnis disana, tapi juga kepada para pengunjung dan semua pihak yang berkepentingan dengan Danau Toba.
Seribu Sajak Danau Toba Jilid I hadir sebagi bentuk petisi dari orang-orang yang peduli terhadap kelangsungan Danau Toba. Meski tak dapat di pungkiri, dari segi penulisan masih bnayak yang harus diperbaiki seperti missing text dan ejaan yang masih belum sesuai dengan kaidah-kaidah buku besar Bahasa Indonesia.
Penyunting : Jhon Fawer Siahaan
Sumber: http://midmagz.com/site/2015/01/28/seribu-sajak-toa-toba-jilid-i/

Comments

Popular posts from this blog

ROADSHOW LGN MEDAN X LITERACY COFFEE

Di tengah perkembangan dunia teknologi, buku konvensional atau buku yang terbuat dari kertas, menjadi sesuatu yang semakin asing dan makin sulit ditemukan. Banyak orang yang kemudian beralih ke buku digital, sehingga buku menjadi lebih jarang ditemukan. Atas alasan minat baca yang sangat minim serta buku yang sudah mulai asing,  Literacy Coffee   memadukan konsep, kedai kopi dan buku, yang disertai dengan acara mengulas buku setiap minggunya. Hal ini dilakukan agar buku tidak semakin asing, terutama untuk kaum muda. Literacy Coffee  terletak di Jalan Jati II No. 1, belakang Kampus ITM, Teladan, Medan. Jhon Fawer Siahaan, sebagai pendiri, menyebutkan,  perpaduan antara kedai kopi dan buku yang digagasnya menjadi gerakan awal baginya dan rekan-rekannya, untuk mengembalikan ‘kejayaan’ buku. “Memang kami menyadari bahwa hal itu bukan sebuah solusi yang produktif, namun itu menjadi sebuah gerakan awal, bagaimana pengunjung bisa mengenal buku. Dari seki...