Skip to main content

Literasi Sumatera Wahana Alternatif Sejarah Lokal


Medan | Jurnal Asia
Kegelisahan yang dirasakannya akan minimnya penulis lokal dan ketiadaan wahana yang bisa menjadi tempat untuk berdiskusi, melakukan riset dan pusat referensi mengenai sejarah Sumatera membuat Jhon Fawer Siahaan merasa harus segera mendirikan Literasi Sumatera, lembaga yang diharapkannya bisa mereduksi kekurangan-kekurangan tersebut. Bertempat di Jalan Sisingamangaraja No. 132 Medan, lembaga tersebut berlokasi dimana ia menyimpan ratusan bukunya yang sebagian besar bertemakan sejarah lokal Sumatera, terutama Sumatera Utara.
Buku-buku yang dimilikinya juga termasuk buku langka dan mahal seperti Tuanku Rao, Bukit Kadir, Ahu Sisingamangaraja, Di Bawah Bendera Revolusi, Sejarah Kemerdekaan Sumatera, Toba Na Sae, dan sebagainya. Namun dia tidak berniat menjual koleksinya tersebut karena tujuannya bukanlah untuk keperluan komersil, melainkan murni untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan.
Malah dia berniat menambah koleksinya tersebut agar mereka yang membutuhkan referensi mau singgah dan berdikusi di tempatnya. Ke depannya dia ingin mengembangkan Literasi Sumatera menjadi sebuah lembaga penelitian sejarah Sumatera yang besar dan diisi penulis atau peneliti lokal mengingat 90 persen penulisan buku sejarah sekarang dilakoni oleh peneliti asing seperti Jerman, Belanda, Perancis dan Amerika Serikat, sisanya adalah penulis pribumi yang rata-rata hanya itu-itu saja. Baginya ini adalah sebuah ironi yang yang harus segera mendapat penanganan serius.
“Saya pikir sudah sangat mendesak agar ketertinggalan kita di bidang penulisan dan penelitian sejarah tidak semakin tertinggal dan tenggelam, sesuai dengan kalimat Pramudia Ananta Toer, penulis idola saya, bahwa orang boleh pintar setinggi langit tapi kalau tidak menulis maka dia akan hilang dari sejarah dan masyarakat,” kata Jhon.
Pada kesehariannya Jhon bergelut di bidang sastra dan teater. Berbagai kegiatan dan pertunjukan telah dia dan kawan-kawannya gelar. Lulusan Jurusan Pendidikan Sejarah Unimed ini telah melaksanakan tour keliling Indonesia untuk promosi teater Batak yang telah terkikis oleh budaya pop dan modernisasi.
Tidak cukup melalui teater dia juga berkontribusi dalam pembuatan film Batak berjudul “Anak Sasada” sebagai alat propaganda bagi orang Batak untuk kembali menemukan kearifan lokal dan jati diri kebudayaannya.
Dalam waktu dekat ini, 22 – 28 Oktober 2014, dia bersama beberapa kawan-kawannya akan memperingati Hari Sumpah Pemuda dengan cara berbeda. Mereka akan membuat acara berjudul Jong Batak Art Festival, sebuah acara seni yang bertema sejarah dengan mengajak para pemuda untuk menolak lupa bahwa dulu seluruh pemuda dari segala penjuru Indonesia pernah bersatu dalam wadah Kongres Kerapatan Pemuda untuk merumuskan sebuah sumpah melawan penjajahan. Harapannya Pemuda Batak kembali menjadi salah satu pelopor persatuan pemuda Indonesia dan mampu menyingkirkan fanatisme kesukuan demi persatuan.
Pada akhir pembicaraan, kepada wartawan Jurnal Asia Jhon mengajak setiap orang yang peduli dan siap, untuk bersama-sama merintis keberadaan penulis dan peneliti lokal agar tidak ketinggalan dan tenggelam dari kebanjiran buku-buku karya penulis luar. “Kita semua punya kegelisahan yang sama, mari bergabung,” tutup Jhon. (Augus Hendartha Batubara)
 - See more at: http://www.jurnalasia.com/2014/09/13/literasi-sumatera-wahana-alternatif-sejarah-lokal/#sthash.eG5IthcX.dpuf

Comments

Popular posts from this blog

Ingot Mandailing Godang

Dalan Na Rahis-Martogi Sitohang- Arisma Trio

Music Tradisional Pak Pak Geo Bike kaldera Toba