| Setelah melewati proses panjang, buku antologi puisi Seribu Sajak Tao Toba dilaunching, di Ruang Pameran Taman Budaya Sumatera Utara Jalan Perintis Kemerdekaan No. 33, Sabtu, 03 Maret 2014 lalu. Buku Seribu Sajak Tao Toba merupakan kumpulan puisi yang ditulis ratusan penyair yang tersebar di penjuru Indonesia. Buku ini digagas oleh Jhon Fawer Siahaan, Andi Siahaan, Andi Damanik dan Aquardes Pakpahan. Penerbitan buku ini merupakan salah satu wujud keprihatinan para penulis terhadap kondisi Tao Toba (Danau Toba), sekaligus sikap mereka terhadap persoalan-persoalan yang terjadi di Kawasan Danau Toba. |
| Tidak heran jika pada buku ini akan kita temui puisi-puisi dengan ekspresi berbeda. Seperti diungkapkan Jhon Fawer Siahaan, prinsipnya puisi-puisi yang dimuat dalam buku ini lebih kepada ungkapan para penyairnya. Sedangkan soal estetika hanyalah bagian lain yang sifatnya mendukung tulisan. Boleh disebut tujuan utama penerbitan antologi Seribu Sajak Tao Toba ini adalah untuk melahirkan kesadaran kolektif semua orang, agar lebih perduli dan mencintai Danau Toba. Penghancuran Tao Toba yang berlangsung secara terus menerus menjadi ide awal dalam pembuatan buku ini. Pengumpulan puisi pun dilakukan sejak November tahun 2012 dan ditargetkan mencapai seribu puisi. Namun penerbitannya akan dilakukan secara berkala, yakni hingga empat jilid. Setiap jilidnya memuat 250 puisi. Penerbitan buku ini menggunakan dana swadaya oleh para penulis dan juga pribadi-pribadi yang perduli dengan Tao Toba. Sedangkan sebagian hasil dari penjualan buku akan didonasikan untuk gerakan sosial Tao Toba. Karena itu, buku ini diharapkan bisa menjadi sebuah media untuk menyampaikan pesan kepada pembaca supaya lebih mencintai Danau Toba dan menjadi gagasan awal untuk produk-produk kreativitas berikutnya. Dalam diskusi dan launching buku ini menghadirkan empat pembicara dengan latar belakang yang berbeda. Antara lain, Jhon Fawer Siahaan (penggagas Seribu Sajak Tao Toba) Jones Gultom (Redaktur Budaya Harian MedanBisnis) Asmita Surbakti (Akademisi USU) dan Ranto Sibarani (Aktivis LSM). Selain diskusi, launching buku Seribu Sajak Tao Toba juga menampilkan beragam pertunjukan seni dari beragam l genre seperti tari, film, musik, rupa, sastra oleh berbagai kelompok seni, antara lain, Samoland Ethnic, Simalem Art, Coro Siantar, Tataring, Proletar Art. (Oleh: Jones Gultom) Sumber: http://medanbisnisdaily.com/news/read/2014/05/04/93536/launching_buku_1000_sajak_tao_toba/#.VdIpibKqqko |
Literacy Coffee Berdendang Merupakan Blog Senang-senang Literacy Coffee

Comments
Post a Comment