Skip to main content

PELEGALITAS SURAT SISINGAMANGARAJA XII DAN AKSARA BATAK


PELEGALITAS SURAT SISINGAMANGARAJA XII DAN AKSARA BATAK


Oleh:
Prof. Dr. Robert Sibarani, M.S.[1]


PELEGALITAS SURAT SISINGAMANGARAJA XII
            Patuan Bosar Sinambela  atau Ompu Pulo Batu lahir di Bakkara, Kabupaten Humbang Hasundutan pada tahun 1849. Ompu Pulo Batu yang menjadi Sisingamangaraja XII mulai tahun 1875 sampai 1907 adalah Pahlawan Nasional dari Tanah Batak, yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia pada 9 November 1961.
            Pemberian gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah Indonesia karena perjuangannya untuk melawan penjajahan untuk membebaskan Tanah Batak pada khususnya dan Indonesia pada umumnya dari penjajahan. Dia berperang melawan penjajah Belanda kurang lebih 30 tahun (1877-1907).  Perjuangannya tidak mengenal menyerah dan perjuangannya berakhir karena mati tertembak pada tanggal 17 Juni 1907 di tepi sungai Sibulbulon, Gunung Sitapongan, Desa Sionomhudon, Parlilitan, Tapanuli Utara.
            Dalam perjuangannya melawan penjajah, Sisingamangaraja XII  lebih banyak memainkan peran politik dan militer daripada para pendahulunya dan bahkan dia telah mencoba mempengaruhi serdadu KNIL Indonesia asli untuk berbalik melawan penjajah. Dalam usahanya melawan penjajah dengan kerja sama keluar dan untuk menyamakan kedudukannya dengan raja-raja atau sultan-sultan Melayu, Sisingamangaraja XII-lah yang pertama menggunakan kertas dan cap sebagai legalitas surat yang ditujukan kepada otoritas kolonial Belanda dan missionaris Jerman I.L. Nommensen.
Sebagai pelegalitas surat-suratnya selama masa perjuangan, ada tiga jenis cap Sisingamangaraja XII (Kozok, 2000:254), dua di antaranya (cap B dan C) lebih sering digunakan, sedangkan satu lagi (cap A) jarang digunakan, tetapi ada ditemukan dalam arsip Vereinigte Evangelische Mission (pengganti RMG) di Wuppertal, Jerman. Ketiga cap itu ditulis dengan bahasa dan aksara Batak yang ditulis ditengah cap dan bahasa Melayu dengan menggunakan aksara Jawi yang ditulis di pinggir sekeliling cap.
            Cap A berbentuk bulat bergerigi sepuluh dengan diameter 60 mm. Kondisi cap ini kurang bagus dan kelihatannya dibuat terbalik, aksaranya baru jelas terbaca setelah menggunakan cermin seperti berikut ini:

 



 (CAP A)




Cap B berbentuk bulat bergerigi 12 dengan diameter 74 mm. Ini yang lebih sering digunakan dalam surat-surat Sisingamangaraja XII sebagaimana terlihat berikut ini:




(CAP B)








 Cap C berbentuk bulat bergerigi 7, yang tampaknya lebih ”mudah” dibaca seperti terlihat berikut ini:





(CAP C)




Tulisan Aksara Batak yang ada pada ketiga cap itu, terutama lebih banyak  tafsiran dalam cap B, memiliki variasi bacaan dan tafsiran seperti ini:
1.       Ahus sap tuwana Sisingamangaraja tiyan Bagara.
2.      Ahu sasap tangan sisingamangaraja mian Bakkara.
3.      Ahu sasap tuwana  Sisingamangaraja mian Bakkara.
4.      Ahu ma sap tuana Sisingamangaraja sian Bagara.
5.      Ahu sahap ni tuwan Sisingamangaraja tian Bakara.
6.      Ahu sahap tuan Sisingamangaraja tian Bakara.
7.      Ahu sahap ni  Sisingamangaraja sian Bakara.
8.      Ahu sasap tuana  Sisingamangaraja tian Bagara.
9.      Ahu ma sap tuan Sisingamangaraja tian Bangkara.
Namun, dari semua tafsiran itu, inti tulisan pada cap itu adalah ”Ahu sap ni Sisingamangaraja sian Bakara”, yang artinya ”Aku cap Sisingamangaraja dari Bakara”.
            Tulisan Arab Melayu, yang berada di sekeliling cap itu berbunyi, ”Inilah cap maharaja di negeri Teba kampung Bakara nama kotanya hijrat Nabi 1304. (Kozok, 2000:265).
           


Di samping sebagai legalitas surat dalam memainkan peran politik dan militernya, cap Sisingamangaraja XII  yang bertuliskan aksara dan bahasa Batak serta aksara Jawi dan bahasa Melayu menggambarkan beberapa hal:
1)      Perlunya mempertahankan nilai identitas etnik.
2)      Perlunya menjalin kerja sama dengan etnik dan religi lain terutama dengan mereka sesama penutur bahasa Melayu, yang dalam konteks sekarang ini adalah masyarakat penutur bahasa Indonesia atau masyarakat Indonesia.
3)      Sebagai cap pejuang yang menjadi Pahlawan Nasional, itu dapat memberikan inspirasi dan motivasi untuk merevitalisasi penggunaan aksara dan bahasa Batak tanpa melupakan bahasa Melayu atau bahasa Indonesia. Dengan kata lain, etnisitas dalam bingkai nasionalisme.

AKSARA BATAK
Aksara Batak dapat digolongkan ke dalam dua bagian besar, yakni Induk Surat (Induk Huruf) dan Anak Surat (Anak Huruf). Induk Surat adalah aksara induk yang bersifat silabis, sedangkan Anak Surat adalah pengubah bunyi, penambah bunyi, dan penghilang bunyi /a/ pada induk huruf.
Penulisan aksara Batak memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Hanya ada 2 tanda baca dalam aksara Batak yaitu :
a.       Tanda tutup kurung ) digunakan sebagai tanda penghubung untuk menghubungkan kata yang tidak muat ditulis pada akhir baris.
b.  Tanda ! (bindu) digunakan sebagai penanda batas antara bab atau bagian cerita telah berakhir.
2.      Kata-kata ditulis bergabung, yakni tanpa jarak antara satu kata dengan kata lain.
Sebagai tulisan tangan dalam naskah, aksara Batak memiliki varian yang menarik untuk diperbincangkan, tetapi buku pedoman ini tidak akan menguraikan analisis varian-varian tersebut karena buku ini dimaksudkan sebagai pedoman ringkas untuk dapat membaca dan menulis aksara Batak. Dengan demikian, kemungkinan para pembaca akan melihat sedikit perbedaan aksara yang diterakan di buku ini dengan yang pernah dilihat atau dipelajarinya pada buku-buku sebelumnya. Karena variasi penulisan aksara yang bersifat individual pada naskah, apalagi belum pernah ada pembakuan aksara, akan muncul berbagai pendapat tentang beberapa varian aksara itu. Sebenarnya, kita tinggal memilih varian mana yang kita inginkan. Misalnya, dalam naskah Batak Toba, terdapat tiga varian untuk /ma/, yakni m, 4, dan 0, tetapi yang paling umum ditemukan dalam naskah adalah m sehingga dalam buku pedoman ini dianjurkan menggunakan m.
Dengan demikian, penulisan induk surat dan anak surat yang diterakan dalam buku ini berpedoman pada varian yang paling umum dijumpai dalam naskah-naskah Batak.

1. INDUK SURAT
Aksara Batak bersifat silabis, artinya satu tanda menggambarkan satu suku kata atau silaba. Tanda yang silabis itu disebut induk surat. Induk surat memiliki sifat-sifat berikut:
1.      Pada umumnya berbunyi /a/, kecuali induk surat /i/ dan /u/.
2.      Tidak mengenal huruf besar dan huruf kecil.
Induk surat dalam aksara Batak untuk semua etnik tersebut dapat dilihat dalam daftar berikut ini:


Karo
Pakpak
Simalungun
Toba
Mandailing
a
A
a
a
a
a
ha
A
a
k
h
h
ka
K
k
k
k
k
ba
B
b
b
b
b
pa
p
p
p
p
p
na
N
n
n
n
n
wa
W
w
w
w v
w
ga
g
g
g
g
g
ja
j
j
j
j
j
da
D
d
d
d
d
ra
R
r
r
r
r
ma
m
m
m
m 4 0
m
ta
t
t
t
f t
t
sa
s
s
s
s
s
ya
y
y
y
y
y
nga
< 
< 
< 
< 
< 
la
l
l
l
l
l
nya


C
[
[
Ca
C C
s


c
Nda
[




mba
B




I
I
I
I
I
I
U
U
U
U
U
U

2. ANAK SURAT
Bunyi /a/ yang terdapat pada semua induk surat kecuali /i/ dan /u/ dapat diubah, ditambah, atau dimatikan. Untuk mengubah bunyi induk surat menjadi berbunyi /i/, /u/, /e/, /o/, /ou/, atau untuk menambah bunyi sengau /ng/ atau bunyi /h/ di akhir suku kata, dan atau mematikannya (mengubah induk surat menjadi konsonan), dipergunakanlah tanda-tanda khusus yang disebut anak surat. Penggunaan anak surat dijelaskan pada tabel berikut :

Karo
Pakpak
Simalungun
Toba
Mandailing
Äš

E    e

    e



E

E   e

   e
   e
    e
   e
I
    i     =
    i
    i
     i
     i
o
    oo      O
    o
    o
     o
     o
Ou


   O  


U
    u
     e   
     e
     e
     e
ng
    ^
    ^
    ^
     ^
     ^
H
    h
    h
    h


-
    -
    \
    -
     \
     \
 
3.        PENGGUNAAN AKSARA BATAK DALAM BAHASA TOBA
Agar lebih mempermudah pemahaman terhadap aksara Batak ini, berikut disertakan contoh-contoh dalam penggunaan bahasa Toba :

A.   Induk Surat
hl    =     hala                 m<r    =     mangara
mr         =     mara                shl  = sahala
am    =     ama                 Inn    =     inana

B.    Anak Surat

Untuk mengubah bunyi /a/ pada huruf dasar aksara Batak pada bahasa Toba digunakan beberapa tanda anak surat, yakni:
1.    Hatadingan
     (garis pendek pada kiri atas aksara) menghasilkan bunyi /e/
contoh :      me =  me
                   bE = be
2.    Haluan
     (lingkaran kecil pada sisi kanan aksara) menghasilkan bunyi /i/
contoh :      li = li
                   pi = pi

3.    Sihora atau Siala
     (silang kecil pada sisi kanan aksara) menghasilkan bunyi /o/
contoh :      <o = ngo
                   lo = lo
4.    Haboruan atau Haborotan
     (seperti panah pada sisi kanan atau bawah aksara) menghasilkan bunyi /u/
contoh :      B = bu
                   = pu
5.    Hamisaran atau Paminggil
     (garis pendek pada kanan atas aksara) menghasilkan bunyi /ng/
contoh :  d^ =  dang      de^ =   deng
                   g^ =   gang      ge^ =   geng

6.    Pangolat
     (garis miring ke bawah yang diletakkan di belakang induk surat) berfungsi menghilangkan bunyi /a/ pada induk surat. 
contoh :      lm\bko\   =   lambok
                   bgs\      =   bagas
Perlu diperhatikan bahwa apabila anak surat penghilang bunyi /a/ digunakan pada sebuah suku kata yang ditulis dengan menggunakan dua induk surat yang juga memiliki anak surat pengubah bunyi, maka anak surat pengubah bunyi itu diletakkan pada aksara terakhir atau sebelum anak surat penghilang bunyi itu. Perhatikanlah penulisan kata:
            lam-bok = lm\bko\ ; bukan lm\bok\

C.   Induk Surat dan Anak Surat

Induk Surat
Anak Surat
e
I
o
u
ng
Pangolat
A a
ae
ai
ao
A
a^

H ha
he
hi
ho
H
h^
h\
N na
ne
ni
no
N
n^
n\
R ra
re
ri
ro
R
r^
r\
T ta
te
ti
to
T
t^
t\
B ba
be
bi
bo
B
b^
b\
W wa
we
wi
wo
W
w^
w\
I i






M ma
me
mi
mo
M
m^
m\
< nga
<e
<i
<o
> 
<^
<\
L la
le
li
lo
L
l^
l\
P pa
pe
pi
po
P
p^
p\
S sa
se
si
so
S
s^
s\
D da
de
di
do
D
d^
d\
G ga
ge
gi
go
G
g^
g\
J ja
je
ji
jo
J
j^
j\
U u






Y ya
ye
yi
yo
Y
y^
y\
K ka
ke
hi
ko
K
k^
k\
[ nya
[e
[i
[o
]
[^
[\

D.   Huruf Hidup dan Tambahan Bunyi /ng/

Huruf hidup yang berdiri sendiri hanya I /i/ dan U /u/, keduanya hanya digunakan jika berdiri sendiri sebagai satu suku kata seperti:
In^     =   i-nang
pUl     =   pa-u-la
mlU     =   ma-la-u
Jika /i/ atau /u/ tidak berdiri sendiri sebagai suku kata, maka induk surat a /a/ yang diubah dengan menggunakan anak surat tambahan bunyi /ng/  seperti menuliskan /ing/ dan /ung/.
Tanda untuk mengubah bunyi /ng/ diletakkan di atas sebelah kanan induk huruf. Apabila terdapat anak surat di sebelah kanan induk huruf, maka tanda /ng/ ditempatkan di atas anak huruf itu.

a   = a                    ai^   =              ing
a   = a                    A^ =   ung
a   = a                    ae =   e               ae^    =         eng
b   = ba                  be =   be             be^    =         beng
s   = sa                  so =   so               so^ = song
d   = da                 do     =   do              do^  =   dong
l   = la                   L   =   lu                L^    =         lung
m       = ma                 M       =   mu              M^    =         mung
t       = ta                  ti =   ti                ti^ = ting
r       = ra                  ri  =   ri                ri^ = ring
Dalam penulisan aksara Batak, apabila sebuah akhiran yang dimulai dengan huruf vokal dilekatkan pada kata dasar yang berakhir dengan konsonan, maka penulisan akhiran itu digabungkan dengan konsonan kata dasar tersebut, tetapi apabila akhiran yang dimulai dengan vokal dilekatkan pada kata dasar yang berakhir dengan vokal, maka akhiran itu dipisah dari kata dasarnya.


Contoh :
              d^Gri       =   dang-gu-ri
              leleI       =   le-le-i
              boanno\  =       bo-a-non
              tRan\       =   ta-ru-an   

E.    Pemahaman Ulang

Untuk menguatkan pemahaman kita terhadap uraian sebelumnya, perhatikanlah sajian berikut dengan cermat!
am         =   a ma
In    =   i na
Um    =   u ma
aor   =   o ra
ael   =   e la
a^go  =   ang go
pir   =   pi ra
ahdodiho                aha do di ho
betmhitlho              beta ma hita laho
ano\mSrt\btk\           on ma surat batak

bereng ma birong ni bajuna i
bere^mbiro^nibJnI     
angka naung maduma sonang do ngoluna
a^knA^mDmson^do<oLn
bona ni pasogit
bonnipsogti\           

Perlu diingat hanya huruf nga dari Induk Surat yang tidak boleh memakai pangolat (\).
Contoh :        tang  ditulis t^           bukan t<\
         seng ditulis se^    bukan s<E\
4          CARA PENULISAN AKSARA BATAK DENGAN KOMPUTERISASI

Seiring dengan perkembangan dan kemajuan teknologi khususnya teknologi komputer akhir-akhir ini telah melahirkan sebuah terobosan, yakni menulis aksara Batak dengan komputerisasi. Dahulu, kita hanya menemukan aksara ini ditulis pada kulit kayu atau laklak, kemudian berkembang dengan ditulis di kertas atau di buku. Kini kita dapat menjumpai aksara Batak di komputer dengan adanya font Aksara Batak yang dapat diinstall di komputer. Font aksara Batak ini pertama sekali diperkenalkan oleh Uli Kozok (1999). Cara pengoperasiannya tidaklah begitu sulit, berikut ini akan dijelaskan bagaimana cara pengoperasian aksara Batak pada komputer serta menunjukkan tombol mana yang harus ditekan untuk menghasilkan aksara yang diinginkan. Kolom kiri menunjukkan tombol, dan kolom kedua aksara Batak yang dihasilkan bila tombol tersebut ditekan dengan format aksara Toba. Pada kolom ketiga dicantumkan makna aksara Batak di kolom dua. V.1, V.2, dst. Merujuk pada varian-varian suatu aksara.

Tombol untuk Toba
Tmbl.
Huruf
Makna

Tmbl.
Huruf
Makna
Catatan
!
!






4
4
ma

5
5
mu
V. 2
< 
< 
nga

> 
> 
ngu

A
a
a

A
A
u

B
b
ba

B
B
bu

D
d
da

D
D
du

e
  e
é

E
   E
é
diakritik /é/
F
f
ta

F
F
tu
V. 2
G
g
ga

G
G
gu

H
h
ha

H
H
hu

i
   i
i




diakritik /i/




I
I
i

J
j
ja

J
J
ju

K
k
ka

K
K
ku

L
l
la

L
L
lu

M
m
ma

M
M
mu

N
n
na

N
N
nu

o
   o
o




diakritik /o/
P
p
pa

P
P
pu

Q
q
na

Q
Q
nu
V. 2 (/na/ kuno)
R
r
ra

R
R
ru

S
s
sa

S
S
su

T
t
ta

T
T
tu
V. 1




U
U
u

V
v
wa

V
V
wu
V.2
W
w
wa

W
W
wu
V.1
Y
y
ya

Y
Y
yu

[
[
nya

]
]
nyu

\
   \

tanda mati
^
   ^








Daftar Pustaka
Kozok, Uli
1999        Warisan Leluhur: Sastra Lama dan Aksara Batak. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia
2000        The Seals of The Latest Sisingamangaraja. Indonesian and the Malay World, Vol.28, No.82, 2000.

Sibarani, Robert.
2006        Pedoman Aksara Batak: Secara Manual dan Komputerisasi. Medan: LPPM USU
Sidjabat W.B.
            1983    Ahu Sisingamangaraja: arti histories, politis, ekonomis dan religius Si Singamangaraja XII. Jakarta: Sinar Harapan.
           





[1] Rektor Universitas Darma Agung, Ketua LPPM USU, Anggota DRD Pemprovsu, Dosen Pascasarjana USU, UNIMED, UDA. 
PELEGALITAS SURAT SISINGAMANGARAJA XII DAN AKSARA BATAK


Oleh:
Prof. Dr. Robert Sibarani, M.S.[1]


PELEGALITAS SURAT SISINGAMANGARAJA XII
            Patuan Bosar Sinambela  atau Ompu Pulo Batu lahir di Bakkara, Kabupaten Humbang Hasundutan pada tahun 1849. Ompu Pulo Batu yang menjadi Sisingamangaraja XII mulai tahun 1875 sampai 1907 adalah Pahlawan Nasional dari Tanah Batak, yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia pada 9 November 1961.
            Pemberian gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah Indonesia karena perjuangannya untuk melawan penjajahan untuk membebaskan Tanah Batak pada khususnya dan Indonesia pada umumnya dari penjajahan. Dia berperang melawan penjajah Belanda kurang lebih 30 tahun (1877-1907).  Perjuangannya tidak mengenal menyerah dan perjuangannya berakhir karena mati tertembak pada tanggal 17 Juni 1907 di tepi sungai Sibulbulon, Gunung Sitapongan, Desa Sionomhudon, Parlilitan, Tapanuli Utara.
            Dalam perjuangannya melawan penjajah, Sisingamangaraja XII  lebih banyak memainkan peran politik dan militer daripada para pendahulunya dan bahkan dia telah mencoba mempengaruhi serdadu KNIL Indonesia asli untuk berbalik melawan penjajah. Dalam usahanya melawan penjajah dengan kerja sama keluar dan untuk menyamakan kedudukannya dengan raja-raja atau sultan-sultan Melayu, Sisingamangaraja XII-lah yang pertama menggunakan kertas dan cap sebagai legalitas surat yang ditujukan kepada otoritas kolonial Belanda dan missionaris Jerman I.L. Nommensen.
Sebagai pelegalitas surat-suratnya selama masa perjuangan, ada tiga jenis cap Sisingamangaraja XII (Kozok, 2000:254), dua di antaranya (cap B dan C) lebih sering digunakan, sedangkan satu lagi (cap A) jarang digunakan, tetapi ada ditemukan dalam arsip Vereinigte Evangelische Mission (pengganti RMG) di Wuppertal, Jerman. Ketiga cap itu ditulis dengan bahasa dan aksara Batak yang ditulis ditengah cap dan bahasa Melayu dengan menggunakan aksara Jawi yang ditulis di pinggir sekeliling cap.
            Cap A berbentuk bulat bergerigi sepuluh dengan diameter 60 mm. Kondisi cap ini kurang bagus dan kelihatannya dibuat terbalik, aksaranya baru jelas terbaca setelah menggunakan cermin seperti berikut ini:

 



 (CAP A)




Cap B berbentuk bulat bergerigi 12 dengan diameter 74 mm. Ini yang lebih sering digunakan dalam surat-surat Sisingamangaraja XII sebagaimana terlihat berikut ini:




(CAP B)








 Cap C berbentuk bulat bergerigi 7, yang tampaknya lebih ”mudah” dibaca seperti terlihat berikut ini:





(CAP C)




Tulisan Aksara Batak yang ada pada ketiga cap itu, terutama lebih banyak  tafsiran dalam cap B, memiliki variasi bacaan dan tafsiran seperti ini:
1.       Ahus sap tuwana Sisingamangaraja tiyan Bagara.
2.      Ahu sasap tangan sisingamangaraja mian Bakkara.
3.      Ahu sasap tuwana  Sisingamangaraja mian Bakkara.
4.      Ahu ma sap tuana Sisingamangaraja sian Bagara.
5.      Ahu sahap ni tuwan Sisingamangaraja tian Bakara.
6.      Ahu sahap tuan Sisingamangaraja tian Bakara.
7.      Ahu sahap ni  Sisingamangaraja sian Bakara.
8.      Ahu sasap tuana  Sisingamangaraja tian Bagara.
9.      Ahu ma sap tuan Sisingamangaraja tian Bangkara.
Namun, dari semua tafsiran itu, inti tulisan pada cap itu adalah ”Ahu sap ni Sisingamangaraja sian Bakara”, yang artinya ”Aku cap Sisingamangaraja dari Bakara”.
            Tulisan Arab Melayu, yang berada di sekeliling cap itu berbunyi, ”Inilah cap maharaja di negeri Teba kampung Bakara nama kotanya hijrat Nabi 1304. (Kozok, 2000:265).
           


Di samping sebagai legalitas surat dalam memainkan peran politik dan militernya, cap Sisingamangaraja XII  yang bertuliskan aksara dan bahasa Batak serta aksara Jawi dan bahasa Melayu menggambarkan beberapa hal:
1)      Perlunya mempertahankan nilai identitas etnik.
2)      Perlunya menjalin kerja sama dengan etnik dan religi lain terutama dengan mereka sesama penutur bahasa Melayu, yang dalam konteks sekarang ini adalah masyarakat penutur bahasa Indonesia atau masyarakat Indonesia.
3)      Sebagai cap pejuang yang menjadi Pahlawan Nasional, itu dapat memberikan inspirasi dan motivasi untuk merevitalisasi penggunaan aksara dan bahasa Batak tanpa melupakan bahasa Melayu atau bahasa Indonesia. Dengan kata lain, etnisitas dalam bingkai nasionalisme.

AKSARA BATAK
Aksara Batak dapat digolongkan ke dalam dua bagian besar, yakni Induk Surat (Induk Huruf) dan Anak Surat (Anak Huruf). Induk Surat adalah aksara induk yang bersifat silabis, sedangkan Anak Surat adalah pengubah bunyi, penambah bunyi, dan penghilang bunyi /a/ pada induk huruf.
Penulisan aksara Batak memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Hanya ada 2 tanda baca dalam aksara Batak yaitu :
a.       Tanda tutup kurung ) digunakan sebagai tanda penghubung untuk menghubungkan kata yang tidak muat ditulis pada akhir baris.
b.  Tanda ! (bindu) digunakan sebagai penanda batas antara bab atau bagian cerita telah berakhir.
2.      Kata-kata ditulis bergabung, yakni tanpa jarak antara satu kata dengan kata lain.
Sebagai tulisan tangan dalam naskah, aksara Batak memiliki varian yang menarik untuk diperbincangkan, tetapi buku pedoman ini tidak akan menguraikan analisis varian-varian tersebut karena buku ini dimaksudkan sebagai pedoman ringkas untuk dapat membaca dan menulis aksara Batak. Dengan demikian, kemungkinan para pembaca akan melihat sedikit perbedaan aksara yang diterakan di buku ini dengan yang pernah dilihat atau dipelajarinya pada buku-buku sebelumnya. Karena variasi penulisan aksara yang bersifat individual pada naskah, apalagi belum pernah ada pembakuan aksara, akan muncul berbagai pendapat tentang beberapa varian aksara itu. Sebenarnya, kita tinggal memilih varian mana yang kita inginkan. Misalnya, dalam naskah Batak Toba, terdapat tiga varian untuk /ma/, yakni m, 4, dan 0, tetapi yang paling umum ditemukan dalam naskah adalah m sehingga dalam buku pedoman ini dianjurkan menggunakan m.
Dengan demikian, penulisan induk surat dan anak surat yang diterakan dalam buku ini berpedoman pada varian yang paling umum dijumpai dalam naskah-naskah Batak.

1. INDUK SURAT
Aksara Batak bersifat silabis, artinya satu tanda menggambarkan satu suku kata atau silaba. Tanda yang silabis itu disebut induk surat. Induk surat memiliki sifat-sifat berikut:
1.      Pada umumnya berbunyi /a/, kecuali induk surat /i/ dan /u/.
2.      Tidak mengenal huruf besar dan huruf kecil.
Induk surat dalam aksara Batak untuk semua etnik tersebut dapat dilihat dalam daftar berikut ini:


Karo
Pakpak
Simalungun
Toba
Mandailing
a
A
a
a
a
a
ha
A
a
k
h
h
ka
K
k
k
k
k
ba
B
b
b
b
b
pa
p
p
p
p
p
na
N
n
n
n
n
wa
W
w
w
w v
w
ga
g
g
g
g
g
ja
j
j
j
j
j
da
D
d
d
d
d
ra
R
r
r
r
r
ma
m
m
m
m 4 0
m
ta
t
t
t
f t
t
sa
s
s
s
s
s
ya
y
y
y
y
y
nga
< 
< 
< 
< 
< 
la
l
l
l
l
l
nya


C
[
[
Ca
C C
s


c
Nda
[




mba
B




I
I
I
I
I
I
U
U
U
U
U
U

2. ANAK SURAT
Bunyi /a/ yang terdapat pada semua induk surat kecuali /i/ dan /u/ dapat diubah, ditambah, atau dimatikan. Untuk mengubah bunyi induk surat menjadi berbunyi /i/, /u/, /e/, /o/, /ou/, atau untuk menambah bunyi sengau /ng/ atau bunyi /h/ di akhir suku kata, dan atau mematikannya (mengubah induk surat menjadi konsonan), dipergunakanlah tanda-tanda khusus yang disebut anak surat. Penggunaan anak surat dijelaskan pada tabel berikut :

Karo
Pakpak
Simalungun
Toba
Mandailing
Äš

E    e

    e



E

E   e

   e
   e
    e
   e
I
    i     =
    i
    i
     i
     i
o
    oo      O
    o
    o
     o
     o
Ou


   O  


U
    u
     e   
     e
     e
     e
ng
    ^
    ^
    ^
     ^
     ^
H
    h
    h
    h


-
    -
    \
    -
     \
     \
 
3.        PENGGUNAAN AKSARA BATAK DALAM BAHASA TOBA
Agar lebih mempermudah pemahaman terhadap aksara Batak ini, berikut disertakan contoh-contoh dalam penggunaan bahasa Toba :

A.   Induk Surat
hl    =     hala                 m<r    =     mangara
mr         =     mara                shl  = sahala
am    =     ama                 Inn    =     inana

B.    Anak Surat

Untuk mengubah bunyi /a/ pada huruf dasar aksara Batak pada bahasa Toba digunakan beberapa tanda anak surat, yakni:
1.    Hatadingan
     (garis pendek pada kiri atas aksara) menghasilkan bunyi /e/
contoh :      me =  me
                   bE = be
2.    Haluan
     (lingkaran kecil pada sisi kanan aksara) menghasilkan bunyi /i/
contoh :      li = li
                   pi = pi

3.    Sihora atau Siala
     (silang kecil pada sisi kanan aksara) menghasilkan bunyi /o/
contoh :      <o = ngo
                   lo = lo
4.    Haboruan atau Haborotan
     (seperti panah pada sisi kanan atau bawah aksara) menghasilkan bunyi /u/
contoh :      B = bu
                   = pu
5.    Hamisaran atau Paminggil
     (garis pendek pada kanan atas aksara) menghasilkan bunyi /ng/
contoh :  d^ =  dang      de^ =   deng
                   g^ =   gang      ge^ =   geng

6.    Pangolat
     (garis miring ke bawah yang diletakkan di belakang induk surat) berfungsi menghilangkan bunyi /a/ pada induk surat. 
contoh :      lm\bko\   =   lambok
                   bgs\      =   bagas
Perlu diperhatikan bahwa apabila anak surat penghilang bunyi /a/ digunakan pada sebuah suku kata yang ditulis dengan menggunakan dua induk surat yang juga memiliki anak surat pengubah bunyi, maka anak surat pengubah bunyi itu diletakkan pada aksara terakhir atau sebelum anak surat penghilang bunyi itu. Perhatikanlah penulisan kata:
            lam-bok = lm\bko\ ; bukan lm\bok\

C.   Induk Surat dan Anak Surat

Induk Surat
Anak Surat
e
I
o
u
ng
Pangolat
A a
ae
ai
ao
A
a^

H ha
he
hi
ho
H
h^
h\
N na
ne
ni
no
N
n^
n\
R ra
re
ri
ro
R
r^
r\
T ta
te
ti
to
T
t^
t\
B ba
be
bi
bo
B
b^
b\
W wa
we
wi
wo
W
w^
w\
I i






M ma
me
mi
mo
M
m^
m\
< nga
<e
<i
<o
> 
<^
<\
L la
le
li
lo
L
l^
l\
P pa
pe
pi
po
P
p^
p\
S sa
se
si
so
S
s^
s\
D da
de
di
do
D
d^
d\
G ga
ge
gi
go
G
g^
g\
J ja
je
ji
jo
J
j^
j\
U u






Y ya
ye
yi
yo
Y
y^
y\
K ka
ke
hi
ko
K
k^
k\
[ nya
[e
[i
[o
]
[^
[\

D.   Huruf Hidup dan Tambahan Bunyi /ng/

Huruf hidup yang berdiri sendiri hanya I /i/ dan U /u/, keduanya hanya digunakan jika berdiri sendiri sebagai satu suku kata seperti:
In^     =   i-nang
pUl     =   pa-u-la
mlU     =   ma-la-u
Jika /i/ atau /u/ tidak berdiri sendiri sebagai suku kata, maka induk surat a /a/ yang diubah dengan menggunakan anak surat tambahan bunyi /ng/  seperti menuliskan /ing/ dan /ung/.
Tanda untuk mengubah bunyi /ng/ diletakkan di atas sebelah kanan induk huruf. Apabila terdapat anak surat di sebelah kanan induk huruf, maka tanda /ng/ ditempatkan di atas anak huruf itu.

a   = a                    ai^   =              ing
a   = a                    A^ =   ung
a   = a                    ae =   e               ae^    =         eng
b   = ba                  be =   be             be^    =         beng
s   = sa                  so =   so               so^ = song
d   = da                 do     =   do              do^  =   dong
l   = la                   L   =   lu                L^    =         lung
m       = ma                 M       =   mu              M^    =         mung
t       = ta                  ti =   ti                ti^ = ting
r       = ra                  ri  =   ri                ri^ = ring
Dalam penulisan aksara Batak, apabila sebuah akhiran yang dimulai dengan huruf vokal dilekatkan pada kata dasar yang berakhir dengan konsonan, maka penulisan akhiran itu digabungkan dengan konsonan kata dasar tersebut, tetapi apabila akhiran yang dimulai dengan vokal dilekatkan pada kata dasar yang berakhir dengan vokal, maka akhiran itu dipisah dari kata dasarnya.


Contoh :
              d^Gri       =   dang-gu-ri
              leleI       =   le-le-i
              boanno\  =       bo-a-non
              tRan\       =   ta-ru-an   

E.    Pemahaman Ulang

Untuk menguatkan pemahaman kita terhadap uraian sebelumnya, perhatikanlah sajian berikut dengan cermat!
am         =   a ma
In    =   i na
Um    =   u ma
aor   =   o ra
ael   =   e la
a^go  =   ang go
pir   =   pi ra
ahdodiho                aha do di ho
betmhitlho              beta ma hita laho
ano\mSrt\btk\           on ma surat batak

bereng ma birong ni bajuna i
bere^mbiro^nibJnI     
angka naung maduma sonang do ngoluna
a^knA^mDmson^do<oLn
bona ni pasogit
bonnipsogti\           

Perlu diingat hanya huruf nga dari Induk Surat yang tidak boleh memakai pangolat (\).
Contoh :        tang  ditulis t^           bukan t<\
         seng ditulis se^    bukan s<E\
4          CARA PENULISAN AKSARA BATAK DENGAN KOMPUTERISASI

Seiring dengan perkembangan dan kemajuan teknologi khususnya teknologi komputer akhir-akhir ini telah melahirkan sebuah terobosan, yakni menulis aksara Batak dengan komputerisasi. Dahulu, kita hanya menemukan aksara ini ditulis pada kulit kayu atau laklak, kemudian berkembang dengan ditulis di kertas atau di buku. Kini kita dapat menjumpai aksara Batak di komputer dengan adanya font Aksara Batak yang dapat diinstall di komputer. Font aksara Batak ini pertama sekali diperkenalkan oleh Uli Kozok (1999). Cara pengoperasiannya tidaklah begitu sulit, berikut ini akan dijelaskan bagaimana cara pengoperasian aksara Batak pada komputer serta menunjukkan tombol mana yang harus ditekan untuk menghasilkan aksara yang diinginkan. Kolom kiri menunjukkan tombol, dan kolom kedua aksara Batak yang dihasilkan bila tombol tersebut ditekan dengan format aksara Toba. Pada kolom ketiga dicantumkan makna aksara Batak di kolom dua. V.1, V.2, dst. Merujuk pada varian-varian suatu aksara.

Tombol untuk Toba
Tmbl.
Huruf
Makna

Tmbl.
Huruf
Makna
Catatan
!
!






4
4
ma

5
5
mu
V. 2
< 
< 
nga

> 
> 
ngu

A
a
a

A
A
u

B
b
ba

B
B
bu

D
d
da

D
D
du

e
  e
é

E
   E
é
diakritik /é/
F
f
ta

F
F
tu
V. 2
G
g
ga

G
G
gu

H
h
ha

H
H
hu

i
   i
i




diakritik /i/




I
I
i

J
j
ja

J
J
ju

K
k
ka

K
K
ku

L
l
la

L
L
lu

M
m
ma

M
M
mu

N
n
na

N
N
nu

o
   o
o




diakritik /o/
P
p
pa

P
P
pu

Q
q
na

Q
Q
nu
V. 2 (/na/ kuno)
R
r
ra

R
R
ru

S
s
sa

S
S
su

T
t
ta

T
T
tu
V. 1




U
U
u

V
v
wa

V
V
wu
V.2
W
w
wa

W
W
wu
V.1
Y
y
ya

Y
Y
yu

[
[
nya

]
]
nyu

\
   \

tanda mati
^
   ^








Daftar Pustaka
Kozok, Uli
1999        Warisan Leluhur: Sastra Lama dan Aksara Batak. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia
2000        The Seals of The Latest Sisingamangaraja. Indonesian and the Malay World, Vol.28, No.82, 2000.

Sibarani, Robert.
2006        Pedoman Aksara Batak: Secara Manual dan Komputerisasi. Medan: LPPM USU
Sidjabat W.B.
            1983    Ahu Sisingamangaraja: arti histories, politis, ekonomis dan religius Si Singamangaraja XII. Jakarta: Sinar Harapan.
           




[1] Rektor Universitas Darma Agung, Ketua LPPM USU, Anggota DRD Pemprovsu, Dosen Pascasarjana USU, UNIMED, UDA.

Comments

Popular posts from this blog

ROADSHOW LGN MEDAN X LITERACY COFFEE

Di tengah perkembangan dunia teknologi, buku konvensional atau buku yang terbuat dari kertas, menjadi sesuatu yang semakin asing dan makin sulit ditemukan. Banyak orang yang kemudian beralih ke buku digital, sehingga buku menjadi lebih jarang ditemukan. Atas alasan minat baca yang sangat minim serta buku yang sudah mulai asing,  Literacy Coffee   memadukan konsep, kedai kopi dan buku, yang disertai dengan acara mengulas buku setiap minggunya. Hal ini dilakukan agar buku tidak semakin asing, terutama untuk kaum muda. Literacy Coffee  terletak di Jalan Jati II No. 1, belakang Kampus ITM, Teladan, Medan. Jhon Fawer Siahaan, sebagai pendiri, menyebutkan,  perpaduan antara kedai kopi dan buku yang digagasnya menjadi gerakan awal baginya dan rekan-rekannya, untuk mengembalikan ‘kejayaan’ buku. “Memang kami menyadari bahwa hal itu bukan sebuah solusi yang produktif, namun itu menjadi sebuah gerakan awal, bagaimana pengunjung bisa mengenal buku. Dari seki...